Tantangan Menulis Febuari Ceria PGRI, hari ke 4

Tantangan Menulis Febuari Ceria PGRI, hari ke 4
Novel 
Judul, Aku Ingin Menjadi Diriku Sendiri
Oleh MTantangan Menulis hari ke 4,  4 Febuari Ceria PGRI

Oleh : Mugiarni


Di sekolah, siang itu Syahira tengah menikmati waktu istirahatnya. Pukul 12. 00 WIB. Jiwa Syahira belum lah merasa tenang bila  dirinya belum menunaikan ibadah sholat Zuhur. Sebagai insan yang senantiasa menghambakakan dirinya pada Rabb nya. Tak menunggu waktu lama dirinya segera mengambil air wudhu. Kesegaran menjalar ke tubuh nya saat membasuh muka. Sejuk terasa saat membasuh anggota tubuh yang lainnya. Saat sholat hati terasa begitu tentram. Ketenangan yang meresap ke dalam Sukma yang senantiasa merindukan ketentraman hidup yang hakiki meski suami tak lagi bersama nya. Karena itu usai sholat Syahira sesegera mungkin untuk menemani almarhum suami dalam untaian kata menyatu dalam doa yang ia panjatkan. Entah berapa kali dalam sehari Syahira mengirim doa untuk Almarhum. Kondisi seperti itulah yang membuat Syahira senantiasa bersyukur atas nikmat sehat, kendatipun Syahira hidup dalam kesederhanaan. Sangat sederhana, bahkan.

Syahiira pulang pergi ke sekolah dengan menggoes sepeda. Keinginannya  untuk bersepeda ke sekolah dulu pernah di curahan kepada almarhum suami ketika almarhum masih tinggal bersama nya.

###

Usai sholat, niat hati Syahira hendak memesan makanan pada sebuah kantin yang terletak di area sekolah itu.
Apapun jenis makanan yang tersedia di kantin itu Syahira senantiasa memesannya.
Untuk keluar hanya sekedar untuk makan siang, Syahira enggan pergi ke jalan utama yang berjejer warung makan.
Syahira tergolong sangat perhitungan bila dirinya harus bepergian ketika sedang berada di area sekolah. Syahira lebih memilih waktu istirahat itu untuk mengendorkan urat syaraf. Lebih suka memutar Chanel YouTube di hp nya untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan nya. Seperti kisah inspiratif nya yang tidak yang dapat menggugah dirinya kearah kehidupan yang bermartabat.
Menjalani roda kehidupan yang dinamis berjalan seiring dengan perkembangan zaman yang membuat orang orang terus bertranformasi digital.

Sembari menonton di channel YouTube, Syahira pun memeriksa chat WA yang masuk.
Syahira
merasa panik ketika mendapatkan chat WA dari Nara. 
Bu di rumah ada ular masuk.
Tak hanya itu. 

Nara pun mengirimkan  foto ular yang tampak bagian kepala di kolong meja belajar.

"Jadi Nara harus bagaimana Bu ?"
Naluri seorang ibu pun tumbuh dari hati nurani yang terdalam bila dirinya harus sesegera mungkin untuk bertindak melindungi anaknya itu. Meski Nara bukanlah darah dagingnya, namun Allah telah menakdirkan Nara itu seperti anak kandung sendiri. Apa hendak di kata, saat aku menerima chat WA dari Nara, posisi ku masih berada di sekolah tempat ku mengajar. Waktu menunjukkan pukul 12 : 30
Tak berfikir lama lama aku segera kirim chat ke Nara.
"Nara, sebaiknya sekarang kamu keluar rumah dulu saja. Nanti Ibu pikirin solusi nya !"
Nara pun menurut apa kataku. Ia segera keluar rumah dan mengunci pintunya. 
Belum puas dengan chat WA, akupun memilih untuk melakukan panggilan telepon. 
"Nara, kamu main saja ke tempat temanmu. Nanti kalau Ibu pulang di hubungi sama Ibu ! " kataku.
Terdengar di ponselku ku,"Teman Nara lagi sakit Bu"  Suara Nara di ponselku itu.
Aku membatin. Teman yang setiap hari pergi bersama sama. Mengerjakan tugas sekolah pun selalu kompak,  namun tiba-tiba kondisi teman nya sakit. Itu membuat Nara harus sadar diri untuk tidak mengganggu nya. Namun apa hendak di kata , akupun harus memakluminya.
"Aku nunggu di depan warung sebelah saja, Bu ! Nara takut Ibu pulang , sementara Nara sedang berada di luar sana !'
Penjelasan Nara memang masuk akal. Sebenarnya bila Nara berpendapat demikian,  apalagi aku pulang sekolah absensinya pukul 15 : 01. Itu finger print. Absen ASN G di media ponsel itu pukul 15 : 01 , akan tetapi dalam presensi itu di pengaruhi oleh sinyal. Bila sinyal bagus, maka akan lekas terhubung dan presensi pun berhasil.
Terkadang tiba di rumah pukul 16: 00 ketika cuaca tak bersahabat, turun hujan.
Terkadang akupun harus menyelesaikan tugas pribadiku untuk membimbing Literasi di sekolah. Aku punya konsep dalam hidupku, sebelum tutup usia ingin rasanya mewariskan pengalaman ku dalam menulis buku. Betapa aku punya motivasi yang tinggi agar anak didik sejak dini itu mahir menulis dan sebelum mereka lulus nanti telah memiliki karya buku. Baik buku antologi ataupun karya buku solo. Baik buku fiksi atau pun non fiksi. Karena anak didik yang memiliki minat serius dalam kegiatan literasi itu membuat saya ingin membuktikan bila anak SD telah mampu menjadi seorang penulis buku antologi. Alhamdulillah ada satu orang anak yang dapat mewujudkan impian ku dalam menulis buku antologi.

###
Keesokkan harinya aku menjalani rutinitas seperti hari hari kemarin. Aku pergi ke sekolah dan menjalani rutinitas untuk mengoreksi Penilaian Akhir semester. Masih cukup waktu untuk memeriksa hasil ulangan hingga pengisian buku raport. Waktu demi waktu aku menjalani berbagai aktifitas. Membalas chat WA dari orang tua wali murid. Menjawab pertanyaan dari siswa tentang kegiatan yang akan di laksanakan esok hari, dan sebagainya. Itulah tugas seorang guru. Menjalani berbagai hal yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan yang terkait dengan kesiswaan. 
Siang hari makan di sekolah dengan memasak nasi pada jam jam istirahat.  Sementara itu untuk lauk pauk nya aku membeli bandeng presmol kepada seorang Ibu yang berjualan ke sekolah. Ada rasa sedikit panik mengingat kejadian kemarin sore. Terbayang foto ular yang di share Nara di foto itu. Mata ular yang bersinar putih bagai kilau berlian. Aku berusaha menghalau bayang bayang kelam yang menyeramkan itu. Hanya kepada Alloh aku berlindung.

Bersambung 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen: Selamat Hari Anak Oleh Mugiarni

Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI

Santri DTA Darussalam Kresek Tunaikan Zakat Fitrah